Rezeki Sudah Ditangan Lenyap*

*_Rezeki Sudah Di Tangan Lenyap_*
Oleh : _Naim Emel Prahana_

Metro-(Sakilanews)LELAKI setengah baya itu tersenyum di depan gubuknya tak puas hatinya memandang beberapa pohon buah di sekitarnya berbuah lebat dan sebentar lagi akan panen.
“Mudah-mudahan saat panen harganya tinggi,” gumamnya sambil melangkah mengelilingi pondok (gubuknya).
 
Dengan doa dan penuh harap saat tidurpun lelaki setengah baya itu membayangi buah-buahan sekitar pondok di kebunnya tak seberapa luas itu. bahkan, ia seakan dapat menghitung buah di pepopohan. Ia sejak bibit setinggi 30 cm menanam pohon-pohon buah sekian tahun silam. Sekarang sudah beberapa musim berbuah terus.

Masih ada yang sedang berbunga dan yang baru menjadi pentil si calon buah. Dia sendiri di kebunnya, kegembiraannya tak terkira. Tapi, lelaki setengah baya itu selalu berdoadan berharap semua sesuai proses dan rencana. 

Namun, apa hendak dicakapkan. Pada suatu pagi hari angin kencang menerpaseluruh kawan di sekitar kebunnya disertai dengan hujan lebat. Si lelaki setengah baya itupun tak berani berdiri di luar rumah seperti biasa ia duduk di bangku bambu yang sudah reyot. Ia takut disambar petir.
Sampai sore harinya hujan tetap belum berhenti si lelaki tua itu dengan berpasrah diri kepada Yang Kuasa berbaring di dekat dapurnya sembari memanaskan badan karena di luaran cuaca begitu dingin. Ia tidak tahu, kapan hujan dan angin kencang berhenti sebab, ia tertidur di ruang dapur gubuknya yang berlantaikan tanah.
  
Keesokan paginya, ketika ia sudah bangun sejak waktu subuh dan baru ke luar rumah setelah matahari ke luar dari ufuk Timur. Dengan langkah pasti si lelaki setengah baya itu sudah berdiri di depan gubuknya. Sesaat ia senang karena hujan sudah berhenti mungkin tengah malamnya. Sambil menghisap sebatang rokok nipah, lelaki baya itu mengusapkan matanya memandang setiap pohon di sekitar gubuknya. Alangkah lemasnya semua sendi-sendinya manakala ia melihat buah sekitar gubuknya pada berserakan di bawah batangnya.
Tak ada kata yang dapat ia ucapkan walau dalam hati. Terasa ambyar semua harapannya. Tatkala keadaan yang ia hadapi demikian lalu duduk di bangku bambu reyotnya menenangkan diri seluruh jiwanya terdiam.

Ternyata rezeki yang sudah jelas di depan mata berada di pekarangan gubuk di kebunnya rontok dan tak mungkin akan dijual karena belum pada mateng. Lalu dia menyandakan punggungnya di kursi reyot terbuat dari bambu itu dan ia berkata dalam hati: “ rezeki yang sudah ada di depan mata di genggaman tidak menjamin dapat dimiliki!”
“Mungkin ada niatku yang tidak menggubris tetangga kebun sebelah untuk berbagi jika sudah panen,” katanya.

Dari pelajaran yang menimpa sample histories si lelaki setengah baya itu dapat diambil saripatinya, jika sering mendapat rezeki, mungkin pada rezeki itu terdapat milik orang lain yang melalui seseorang berbagi nikmat dan rezeki. 

Sebab, dengan rezeki yang ada bahkan lebih dari kecukupan perlu digaris bawahi untuk membantu tetangga, sahabat karib atau fakis miskin yang mungkin akan besar manfaatnya di dunia dan pahalanya untuk akhirat kelak. Semoga kita tidak sombong dengan pemberian rezeki dari Allah SWT yang kadang tak dimengerti oleh kita. Semua ada tujuan dari kehendakNYA itu. Aamin.(**)

Desember 2021

Belum ada Komentar untuk "Rezeki Sudah Ditangan Lenyap*"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel